Pewarta : Reynaldi Tulong
Sangihe, Gawai.co — Untuk pertama kali terjadi gempa berkekuatan 7,7 skala richter di Kepulauan Sangihe, Senin (08/06/2026) sekitar pukul 07.37.42 WITA.
Gempa ini yang terkuat di Sangihe dan durasinya cukup lama, hingga langsung membuat warga panik, termasuk anak sekolah dan ASN serta karyawan swasta, langsung berhamburan ke alam terbuka.
Akibat gempa yang disusul dengan peringatan dini tsunami oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ribuan warga langsung melakukan evakuasi mandiri mengungsi ke sejumlah titik aman, salah satunya di kawasan Jalan Makawang, dataran tinggi Kelurahan Soataloara, Kelurahan Soataloara II, Kelurahan Dumuhung dataran tinggi Eneratu dan Kaluhagi Kecamatan Tahuna Timur serta di wilayah Kecamatan Tabukan Utara.
Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari langsung bergerak cepat melakukan pemantauan di beberapa tempat, salah satu diantaranya memantau kondisi pasien RS Liunkendage Tahuna yang diungsikan diuar gedung perawatan.
Michael juga langsung menginformasikan situasi Sangihe pasca gempa, dimana menurut laporan derii beberapa camat, belum ada informasi korban jiwa akibat dampak dari gempa.
Namun Michael menginformasikan khusus di pulau-pulau terluar yang notabene jaraknya sangat dekat dengan lokasi gempa, seperti di pulau Kawio Kecamatan Marore ada beberapa rumah yang roboh.
“Untuk situasi pasca gempa, belum ada info kalau ada korban jiwa, namun di pulau Kawio ada beberapa rumah yang roboh, karena letak Kawio dekat dengan titik gempa,”ungkap Michael.
Bupati memastikan dirinya bersama unsur Forkopimda akan terus memantau situasi pasca gempa, termasuk telah siap membuka posko bantuan serta akan berkoordinasi dengan Gubernur Sulut maupun pihak BMKG.
“Saya bersama unsur Forkopimda akan terus melakukan pemantauan pasca gempa, dan terus berkoordinasi dengan pak Gubernur maupun BMKG terkait info-info selanjutnya,” kata Michael.
Orang nomor satu di Bumi Tampungang Lawo, juga memberikan apresiasi kepada masyarakat yang pro aktif dan bergerak cepat melakukan evakuasi mandiri untuk mengantisipasi terjadinya situasi darurat, termasuk kepada pihak sekolah yang telah berinisiatif meliburkan/memulangkan siswa lebih awal walaupun sedang melaksanakan Ujian Akhir.
“Tapi saya tetap menghimbau kepada seluruh masyarakat, agar tetap tenang, jangan termakan isu liar, dan menunggu informasi dari pemerintah daerah,” pungkas Michael.
Sementara itu, pantauan untuk wilayah kota Tahuna, terjadi penurunan aktifitas, seperti di kawasan pusat perbelenjaan dan pertokoan, banyak toko yang tutup, termasuk swalayan terbesar Megaria Tahuna dan Paragon juga tutup.(nal)


















