Pewarta: Rendi Pontoh
BOLTARA (Gawai.co) – Keluhan masyarakat terkait bau limbah dari operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Boroko akhirnya mendapat penjelasan dari pihak pengelola. Kepala SPPG Boroko, Kurvi Runtuwene, memastikan bahwa persoalan tersebut terjadi pada tahap awal pengoperasian dapur MBG dan kini telah ditangani sesuai standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurut Kurvi, pihak SPPG Boroko bersama mitra Yayasan Dapur Master Berkah telah menerapkan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) portable yang menjadi standar dalam pengelolaan limbah dapur MBG. Sistem tersebut terdiri dari tiga tong pengolahan dan tiga bak penyaringan yang berfungsi mengurai limbah sebelum dibuang.
“Memang pada awal pengolahan ada beberapa kendala teknis. Namun saat ini kami sudah mengikuti standar BGN dengan menggunakan IPAL portable. Pengolahan limbah dilakukan melalui tiga tong dan tiga bak saringan. Limbah terbesar berasal dari proses pencucian ompreng atau wadah makanan,” jelas Kurvi saat ditemui media ini di kantor SPPG Boroko. Rabu, (3/6/26).
Ia mengungkapkan, salah satu kendala yang sempat dihadapi adalah belum tersedianya saringan pengurai bakteri dan bahan kimia pemisah bakteri baik dan jahat di wilayah Sulawesi Utara. Bahan tersebut harus dipesan dari luar daerah untuk mendukung optimalisasi pengolahan limbah.
“IPAL portable kami ini sudah berjalan minggu ketiga. Pengoperasiannya diawasi secara ketat, di mana setiap 30 menit ada petugas yang melakukan kontrol langsung untuk mencegah terjadinya luapan dari tong IPAL,” katanya.
Untuk menghilangkan bau yang ditimbulkan limbah, pihak SPPG juga menggunakan kaporit serta bahan kimia khusus pengurai bakteri. Saat ini kebutuhan bahan kimia tersebut belum tersedia masih dalam perjalanan kesini sebab harus mengantri dan informasi terakhir sudah berada di Kabupaten Minahas utara.
Kurvi menegaskan, SPPG Boroko bersama Yayasan Dapur Master Berkah berkomitmen untuk terus melakukan pembenahan dan peningkatan pelayanan, termasuk merespons berbagai masukan dari masyarakat terkait pengelolaan limbah.
“Kami terus berkomitmen memperbaiki dan memperbarui segala hal yang menjadi permintaan masyarakat agar operasional MBG berjalan baik tanpa menimbulkan dampak lingkungan,” ujarnya.
Saat ini, SPPG Boroko melayani sebanyak 2.337 penerima manfaat yang tersebar di 22 sekolah, Balita, Ibu Menyusui dan Ibu Hamil (3B), serta dua posyandu. Total porsi makanan bergizi yang diproduksi setiap hari mencapai 2.705 porsi sebagai bagian dari program MBG di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
(rp)













