BI Sulut Dorong Implementasi Ekspor Direct Call Bitung–China Berkelanjutan

Pewarta / Editor: Michelle de Jonker

MANADO (Gawai.co) — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Utara terus mendorong penguatan konektivitas perdagangan internasional melalui program Focus Group Discussion (FGD) Direct Call Bitung–China yang digelar di Ruang Tondano Kantor BI Sulut, Jumat (5/6/26).

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama BI Sulut dengan Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara serta dihadiri sekitar 150 pimpinan perusahaan eksportir.

Forum tersebut dinilai berpotensi menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi daerah, membahas peluang, tantangan, serta strategi penguatan pengiriman langsung komoditas unggulan Sulawesi Utara ke China melalui Pelabuhan Bitung.

Kepala Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto, menjelaskan bahwa Direct Call Bitung–China memiliki peran strategis dalam memperkuat perdagangan luar negeri karena mampu memangkas rantai distribusi logistik yang selama ini menjadi salah satu kendala utama ekspor.

Discussion (FGD) Direct Call Bitung–China yang digelar di Ruang Tondano Kantor BI Sulut, Jumat (5/6/2026).

“Direct Call Bitung–China berpotensi menjadi katalis pertumbuhan karena menyasar komponen penting dari sisi pengeluaran, yaitu investasi, ekspor luar negeri, dan impor luar negeri,” ujarnya.

Menurut Joko, program yang telah diuji coba sebanyak tiga kali sejak Maret hingga Mei 2026 menunjukkan hasil yang positif. Berbagai komoditas unggulan Sulawesi Utara, seperti tuna, pala, kelapa, dan produk turunannya, berhasil dikirim langsung ke China dengan waktu tempuh yang jauh lebih singkat dibandingkan jalur konvensional.

Mendorong penguatan konektivitas perdagangan internasional, program Direct Call Bitung–China berpotensi menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi daerah. Jumat (05/06/26).

“Dulu pengiriman ke China bisa memakan waktu hingga satu bulan. Dengan adanya Direct Call, waktu transportasi dapat dipangkas menjadi sekitar lima hingga tujuh hari. Ini tentu memberikan keuntungan besar bagi para eksportir,” katanya.

Selain menekan biaya logistik, jalur pelayaran langsung tersebut juga dinilai mampu menjaga kualitas produk ekspor sehingga memiliki daya saing dan nilai jual yang lebih tinggi di pasar internasional.

Joko menambahkan, posisi Sulawesi Utara yang strategis sebagai gerbang perdagangan di kawasan Asia Pasifik menjadi modal penting untuk memperkuat aktivitas ekspor-impor melalui Pelabuhan Bitung.

FGD tersebut turut menghadirkan perwakilan Bea Cukai, PT Pelindo, sektor perbankan, serta pemerintah daerah.

Melalui forum ini, BI Sulut berharap tercipta sinergi yang kuat untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat implementasi Direct Call Bitung–China agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Harapannya, Direct Call ini dapat memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha, meningkatkan investasi, memperkuat ekspor daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang lebih tinggi,” pungkasnya.

(Mdj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *