Warga Soroti Kursi Roda Bertali Kain di RSUD Boltara, Buruknya Fasilitas Alkes

Foto Istimewa : Warga soroti buruknya fasilitas kursi roda bertali kain milik RSUD BOLTARA.

Pewarta: Rendi Pontoh

BOLTARA (Gawai.co) — Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bolaang Mongondow Utara kembali menuai sorotan. Kali ini, masyarakat mengeluhkan kondisi alat kesehatan (alkes) berupa kursi roda yang dinilai tidak layak digunakan pasien karena bagian penyangga kaki hanya diikat menggunakan kain.

Pemandangan itu memicu kritik tajam dari warga. Di tengah tuntutan pelayanan kesehatan yang manusiawi, fasilitas dasar seperti kursi roda justru terlihat memprihatinkan. “Tak ada rotan, akar pun jadi. Mungkin peribahasa itu cocok dengan kondisi manajemen RSUD sekarang. Penyangga kaki kursi roda cuma pakai kain,” ungkap salah satu warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Keluhan tersebut bukan sekadar persoalan estetika fasilitas rumah sakit, melainkan menyangkut keselamatan dan kenyamanan pasien. Kursi roda merupakan alat vital dalam pelayanan medis, terutama bagi pasien lanjut usia, pasien pasca operasi, hingga warga dengan keterbatasan mobilitas. Kondisi penyangga kaki yang rusak dan diganti kain dianggap mencerminkan lemahnya perhatian terhadap standar pelayanan dasar rumah sakit daerah.

Warga menilai, alasan keterbatasan anggaran tidak seharusnya membuat fasilitas pelayanan publik dibiarkan dalam kondisi seadanya. Apalagi, rumah sakit merupakan wajah pelayanan kesehatan pemerintah kepada masyarakat.

Menanggapi sorotan tersebut, Direktur RSUD Boltara, dr. Firlia Mokoagow, saat ditemui media ini pada Selasa (19/5/2026), membenarkan bahwa rumah sakit saat ini belum memiliki anggaran untuk melakukan pengadaan maupun upgrade alat kesehatan tertentu.

“Memang saat ini RSUD belum memiliki anggaran untuk upgrade alkes karena keterbatasan anggaran,” ujar Firlia.

Ia mengatakan, pihak rumah sakit kemungkinan akan menunggu dukungan anggaran melalui program PHTC. Namun untuk penanganan sementara, pihaknya mempertimbangkan perbaikan dengan cara dilas agar kursi roda tetap dapat digunakan.

Pernyataan tersebut justru memantik pertanyaan publik mengenai prioritas pengelolaan fasilitas rumah sakit daerah. Sebab, di tengah kebutuhan pelayanan kesehatan yang terus meningkat, masyarakat berharap fasilitas dasar seperti kursi roda tidak lagi menjadi persoalan yang harus ditambal dengan solusi darurat.

Bagi warga, pelayanan kesehatan bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga menyangkut kelayakan fasilitas dan penghormatan terhadap martabat pasien.

(rp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *