Lolos Dari Tanah Longsor dan Pohon Roboh, Sontak Pengguna Jalan Berseru Terima Kasih Tuhan

Petugas BPBD saat berada di lokasi kejadian. (Foto: Istimewa)

Editor: Maher Kambey

Pewarta: Michelle de Jonker

MANADO (Gawai.co) – Warga kota Manado yang sedang berada dibeberapa titik bencana tanah longsor dan pohon roboh, menyerukan terima kasih Tuhan, saat luput dari maut.

Peristiwa ini terekam dari ponsel pengguna jalan yang saat itu kendaraan roda empat yang ia kendarai nyaris tertimpa pohon roboh, saat melintasi jalan Martadinata – Kairagi, Manado, Jumat (4/3/2022).

Sekitar pukul 17.15 Wita, Kota Manado dilanda banjir dibeberapa tempat seperti di jalan Kombos dan pekuburan Cina, belakang Pasar Segar Paal 2. Selain itu ada juga dua titik tanah longsor yang disertai pohon roboh yakni di Jalan raya Martadinata – Kairagi yang mengakibatkan seorang pengendara motor meninggal dunia saat menerima penanganan medis dari rumah sakit terdekat.

Kronologi yang diceritakan salah satu pengendara kepada jurnalis Gawai.co, ia langsung berteriak terimakasih Tuhan, bersyukur dirinya luput dari peristiwa tersebut yang pada saat itu jaraknya sangat dekat.

“Kejadiannya sangat cepat, saya langsung bersyukur karena luput dari musibah ini, sekalipun sudah terjadi didepan mata dengan jarak yang sangat dekat”, kata Agung Jacobs.

Menurutnya, tidak ada tanda apapun saat peristiwa itu terjadi. Mobil Agung sendiri berada di urutan ketiga dari peristiwa dua pengendara motor yang tertimpa pohon tersebut. Dia bersama beberapa kendaraan yang lain langsung berbalik arah.

“Saya sempat turun dari mobil dan merekam peristiwa itu, kemudian semua orang diarahkan menyingkir. Lokasi juga sudah diamankan pihak Dinas Perhubungan yang langsung menginformasikan situasi kepada pihak kepolisian dan tim SAR,” tutupnya.

Hingga malam pukul 20.55 Wita, sebanyak 15 orang tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara masih di lokasi tanah longsor dan pohon roboh guna membantu proses pembukaan akses jalan protokol provinsi.

Danny Suryadharma Repi, selaku Sub Bidang Pemberdayaan Masyarakat Penata Penanggulangan Bencana Muda menjelaskan, titik banjir terjadi di area Paal 2, Banjer, Kombos dan beberapa pemukiman warga.

“Titik longsor di Paal 2 tepatnya di belakang Pasar Segar dan di jalan Martadinata Kairagi merenggut satu korban jiwa,”jelas Danny.

“Kemacetan yang terjadi di ruas jalan Paal 2 hingga Kairagi sudah terjadi sejak pukul 17.00 Wita sore tadi hingga pukul 19.00 malam dan mencapai jarak 1 kilometer panjangnya. Namun saat ini situasi di ruas jalan tersebut mulai lengang, karena ada jalan alternatif yang sudah diatur pihak kepolisian,” pungkasnya.

Adapun jalan alternatif untuk menghindari titik bencana dan kemacetan yakni dari arah Manado menuju Bitung dari Paal 2 dan Perkamil tembus ke jalan Ring road, yang dari Bitung, Minut Maumbi diarahkan ke arah Ring road.

Sementara itu Maurice Sabudu selaku Sub Bidang Rekonstruksi Penata Penanggulangan Bencana Muda menjelaskan terkait kondisi bencana yang terjadi.

“UU 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang Nasional, RTRW Provinsi, RTRW Kota Manado sudah menjelaskan aturan hukumnya, 50 meter dari pinggiran sungai, 100 meter dari air pasang tertinggi, 200 meter dari mata air, kemiringan di atas 30% itu adalah kawasan lindung, tapi instansi terkait memberikan ijin mendirikan bangunan di kawasan tersebut, maka terjadilah apa yang di namakan bencana alam,” tandas Maurice. (MdJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *