Pewarta / Editor : Michelle de Jonker
MINAHASA UTARA (Gawai.co) – Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memperkuat penyiapan proyek investasi melalui kegiatan Capacity Building Penyiapan Teknis dan Substantif Proyek Investasi Sulawesi Utara yang digelar di Minahasa Utara pada 17–19 Juni 2026.
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Regional Investor Relations Unit (RIRU) North Sulawesi itu bertujuan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam menyiapkan proyek investasi yang siap ditawarkan kepada investor (ready to offer), mulai dari aspek teknis, substantif, hingga skema pembiayaan.
Dalam sambutannya Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengatakan pemerintah daerah perlu menyiapkan proyek investasi yang matang agar mampu menarik minat investor dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam kesempatan itu, Joko memaparkan empat proyek strategis yang saat ini menjadi fokus pendampingan. Proyek tersebut meliputi pengembangan kawasan industri perikanan di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan pelabuhan perikanan di Kabupaten Kepulauan Talaud, pengembangan infrastruktur kesehatan, pengembangan transportasi umum massal di Kota Manado, serta penguatan struktur proyek melalui pendampingan lintas kementerian.
Menurut dia, proyek kawasan industri perikanan telah difasilitasi melakukan site visit ke Pelabuhan Perikanan Muara Angke dan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta untuk mempelajari praktik terbaik pengelolaan kawasan perikanan.
Sementara itu, proyek infrastruktur kesehatan memperoleh pendampingan melalui kunjungan ke rumah sakit rujukan nasional guna memperoleh referensi teknis dan operasional pengembangan layanan kesehatan.
Adapun proyek transportasi umum massal di Manado juga difasilitasi melakukan studi ke Jakarta guna mempelajari penyelenggaraan transportasi publik modern, termasuk penjajakan kerja sama penyediaan armada bus listrik.
Selain itu, seluruh proyek juga memperoleh pendampingan dari Bappenas, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri untuk memperkuat struktur proyek, meningkatkan kelayakan investasi, serta menyusun skema pembiayaan yang sesuai.
“Kita harus memastikan setiap proyek ini dilengkapi dengan kajian teknis dan skema pembiayaan yang kuat,” ujar Joko.
Ia mengatakan pendampingan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun proyek investasi yang berstatus clean and clear sehingga siap dipromosikan kepada calon investor.

Lebih lanjut, Joko mengungkapkan rangkaian kegiatan investasi Sulawesi Utara akan dilanjutkan dengan North Sulawesi Investment Challenge pada Agustus 2026.
“Kami akan mencari proyek-proyek yang ready to offer dan dikelola oleh pemerintah daerah untuk kemudian ditawarkan kepada investor. Hasil akhirnya tentu kami berharap ada investor yang tertarik menanamkan modalnya pada proyek-proyek tersebut,” katanya.
Setelah proses seleksi proyek, pemerintah bersama Bank Indonesia akan menggelar North Sulawesi Investment Forum yang mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Setelah challenge akan dilanjutkan dengan forum. Di sana kami akan mengundang calon investor untuk melihat berbagai proyek yang kami tawarkan. Memang menawarkan proyek investasi tidak mudah, membutuhkan waktu dan pendekatan yang intensif. Namun ketika proyek sudah siap, jelas, dan memberikan manfaat bagi investor maupun masyarakat, maka peluang investasi akan semakin besar,” ujar Joko.
Melalui kegiatan capacity building tersebut, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara berharap kualitas proyek investasi daerah semakin meningkat sehingga mampu mempercepat realisasi investasi dan memperkuat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara.
Mdj











