Belum Setahun Menjabat, Rektor Unima Telah Hasilkan Tiga Guru Besar dan Berbagai Inovasi

  • Bagikan
Rektor Unima Prof. Dr. Deitje A. Katuuk, MPd. (ist)

Editor: Martsindy Rasuh

TONDANO (Gawai.co) – Patut diapresiasi dan jadi kebanggaan. Ungkapan ini sangat pantas disematkan kepada Prof. Dr. Deitje Adolfien Katuuk, MPd.

Pasalnya, belum setahun menjabat sebagai pimpinan tertinggi di Unima, wanita yang dikenal rendah hati dan murah senyum ini telah menghasilkan setidaknya tiga guru besar serta berbagai inovasi pada bidang pendidikan.

Pada sidang senat Unima sekaligus wisuda, Selasa (27/7), Rektor Prof. Dr. Deitje A. Katuuk, MPd telah mengukuhkan dua guru besar tetap yakni Prof. Dr. Verry Ronny Palilingan, MSi dan Prof. Dr. Marianus, MSi.

Prof Dei mengungkapkan, pengukuhan guru besar merupakan peristiwa yang amat terhormat, karena melalui mimbar ilmiah, seorang guru besar, seorang profesor akan menyampaikan pidato ilmiah, pokok-pokok pikiran, ide dan gagasan brilian keilmuan yang dimilikinya sebagai wujud dari otonomi keilmuan seorang profesor.

“Guru besar atau professor merupakan jabatan akademik tertinggi, dan merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh negara sebagai wujud pengakuan atas prestasi akademik yang diraih, pengakuan atas dedikasi keilmuan yang diberikan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan didalamnya ikut bersama memecahkan persoalan masyarakat, bangsa dan negara,” jelas rektor.

Tidak hanya itu, kata rektor, bagi Unima, kehadiran Prof. Dr. Verry Ronny Palilingan, MSi dan Prof. Dr. Marianus MSi akan lebih meningkatkan academic standing dan semakin memperkuat upaya-upaya memajukan dan mengembangkan Unima ke depan.

“Guru besar menjadi salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) sebuah perguruan tinggi termasuk Unima. Oleh sebab itu, kita semua sangat bersyukur karena hari ini sudah dapat dikukuhkan kembali dua orang Guru Besar Tetap Unima. Tugas dan panggilan untuk membangun Unima masih terbentang luas,” terangnya.

“Banyak anak-anak bangsa yang menanti tangan sukses Prof. Dr. Verry Ronny Palilingan dan Prof. Dr. Marianus untuk mendidik mereka, mengasah mereka dan menyiapkan mereka menjadi anak-anak bangsa yang unggul dan pelopor,” sampainya.

Kata rektor, peristiwa pengukuhan hari ini merupakan momentum penting untuk kita menatap ke masa depan, menangkap peluang-peluang serta menghadapi ancaman seiring dengan perkembangan masyarakat di era teknologi dan revolusi industri 4.0 bahkan era revolusi industri 5.0.

Sebelumnya, telah dilaksanakan juga sidang senat dan wisuda yang telah menghantarkan Prof. Dr. Parabelem Tinno Dolf Rompas MT dikukuhkan Rektor Prof. Dr. Deitje A. Katuuk, MPd sebagai Guru Besar Tetap Unima.

Dengan semangat juang, memiliki niat serta kemauan memajukan Unima, Prof Dei tidak berhenti sampai disitu. Belum lama ini, inovasi per inovasi terus dilakukannya nyaris tanpa henti.

Kurun waktu kepemimpinannya yang baru terbilang berjalan 322 hari telah menghasilkan berbagai prestasi akademik. Termasuk diantaranya, penerbitan 48 jurnal OJS 3, dibukanya Program Studi S2 Hukum, terbentuknya Tim Pemeringkatan, Tim Indikator Kinerja Utama (IKU), Peta Jalan Reformasi Birokrasi, penguatan kerjasama antar lembaga pemerintah, lembaga non pemerintah, pemerintah daerah, swasta, perbankan, serta fokus pada pengembangan sektor kewirausahaan maupun penguatan lembaga menjadi sasarannya.

Unima pun telah mendapat perhatian khusus dari pemerintah maupun para pemangku kepentingan.

Karena kepiawaian dari seorang Rektor Prof. Dr. Deitje A. Katuuk, MPd juga koordinasi dan kerjasama antara Pemprov Sulut, pemerintah kabupaten/kota telah terjalin begitu erat, membuat kampus ini makin diminati.

Rektor pun mengajak seluruh civitas akademika, bahwa dalam semangat kebersamaan ini kiranya kita semua dapat bergandengan tangan memperkokoh komitmen bersama membangun Unima dalam semangat MAPALUS.

Ke depan, kita masih harus menghadapi tugas dan tantangan yang sangat banyak untuk kemajuan Unima.

“Marilah kita terus meningkatkan dan memperkuat komitmen bersama untuk membangun Unima yang sama-sama kita cintai,” ajaknya.

Unima adalah milik bersama. Unima adalah aset bersama, aset masyarakat bangsa dan negara. Oleh sebab itu Unima harus dibangun bersama.

“Membangun bersama, maju bersama dan sejahtera bersama,” pungkasnya. (Martsindy Rasuh)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *