Opini  

Merengkuh Bahagia di Selipan Percepatan

Oleh : Mujibur Rahman

TONDANO (Gawai.co) – Hari-hari belakangan ini, suguhan kejadian menampilkan wajah kekhawatiraan sekaligus kegelisahan. Mengurai peristiwa dengan silang kabut pendapat di media sosial, sampai turut serta menjelma pada alam realitas di sekitar kita. Kebohongan diolah sedemikian rupa, disebar dan dibagikan ke banyak orang.

Olahan kebohongan telah mengaburkan bahkan memburamkan kejadian sesungguhnya. Sungguh olahan dengan editan dan kata memukau, dapat memalingkan sisi tersembunyi dari kebenaran yang ada.

Percepatan menampilkan wajahnya dengan bertopeng dua:

Topeng pertama adalah memberikan kemudahan bagi kehidupan dan aktivis manusia dalam berkeseharian. Topeng kedua menampilkan percepatan dengan meretas sisi kemanusiaan dan budi luhur manusia.

Manusia sebagai makhluk bergerak, tak bisa terlepas dari kepentingan aktivitas demi memenuhi kebutuhan untuk menjalani hidup. Sudah jelas, bahwasanya tak ad yang ingin mengalami keterhambatan dan keterlambatan dalam memenuhi kebutuhan dasar.

Maka efsiensi waktu, serta efektifitas dalam bekerja adalah sentuhan langsung dari kebutuhan akan percepatan.

Topeng kedua adalah buah lain dari diperhadapkannya manusia dengan percepatan.

Sisi kemanusiaan dan budi luhur meluruh karena resapan tak ingin tertinggal informasi. Kegamangan tak ingin ketinggalan informasi, menjadi pemicu munculnya penyakit baru bernama FOMO (Fear of Missing Out).

Percepatan telah mereduksi nilai-nilai sosial, memburamkan kepekaan, serta mengeleminasi sistem instrinsik jiwa manusia yang butuh kebersamaan, saling bercerita dan mendengarkan, serta saling memupuk kebahagiaan meskipun dengan hal yang sederhana.

Lantas dengan itu, muncul sebuah tanya, apakah kita bahagia? Tak dapat dibantah, untuk hidup dan menjalani kehidupan, manusia membutuhkan kesehatan fisik dan kemakmuran dalam materi.

Sebagai peranti dalam menjalnani kehdupan, maka manusia akan senantiasa mencukupkan segala usaha dan daya untuk dapat meraihnya. Untuk bertahan hidup manusia membutuhkan keduanya.

Lantas bila kedua telah mampu diraih, hal apa lagi menjadi kebutuhan manusia? Bukan hal lain, kecuali kebahagiaan. Tujuan hidup adalah meraih kebahagiaan yang sebesar-sebesarnya, sebagaimana dikatakan Jeremy Bentham.

Manusia melangkahkan kaki dari rumah, melebarkan jarak dari keluarga, tak lain dan tak bukan adalah membawa pulang segala peristiwa agar mampu dimaknai serta mengintip cela makna yang berbuah kebahagiaan. Yaaah, kebahagiaan adalah soal pemaknaan terhadap kondisi yang telah dan sedang dialami.

Bahagia tidaklah ditentuka dari seberapa banyak pencapaian yang telah diraih dalam segala bentuk usaha melainkan ditemukan dari proses penghayatan dari segala bentuk keadaan.

Banyak atau sedikitnya aspek materi bukan penentu kebahagiaan. Betapa banyak yang memiliki materi berlimpah, namun bahagia tak kunjung melambari kehidupan.

Rasa bahagia selalu menjadi impian seluruh ummat manusia, segala gerak dan ruang ekspresi dperuntukkan demi mengejar kebahagiaan. Di mana saja dan di waktu kapanpun tak lepas dari tujuan bernama bahagia.

Namun, di tengah arus gerak zaman mengalir sangat cepat, dibutuhkan kemampuan dan asah diri agar mampu memberi jeda dari percepatan tersebut.

Bukankah ditengah percepatan dibutuhkan rem agar mampu tiba pada tujuan dengan selamat.

Anehnya lagi, ada sebagian diantara manusia yang tidak sempat mengerem laju percepatan sehingga melewati semua arus dan kejadian tabpa memperhatikan hal-hal kecil sederhana menilik secercah keindahan hidup.

Pentingnya meraih bahagia, tampaknya membias pada serangan modernisme. Modernisme menjadikan manusia seperti robot-robot.

Mengejar sesuatu tanpa pernah tahu kemana ujung dan dimana pangkal pencapaian. Bahagia (saadah), kemewahan terakhir dari majunya peradaban manusia. Telah banyak pemikir berusaha memahami serta menafsirkan guna menemukan cara bahagia.

Namun setiap kali berusaha meramu dan mencari, setiap kali itu pula dibenturkan dengan keadaan masyarakat penuh kesemrawutan.

Lantas bagaimana meraih bahagia?

Seorang penulis buku tasawuf, Haidar Bagir membagikan tips menemukan bahagia dengan cara sederhana.

Tujuan dari perjalanan menuju bahagia tak lain guna mengisi keseharian dengan penuh hikmad berdasar kebahagiaan yang senantiasa melambari.

Pertama, bekerja keras untuk mengupayakan dan mememnuhi apa saja yang kita dambakan dalam hidup ini. Dibutuhkan usaha dalam mewujudkan segala aoa yang kita inginkan, meskipun pada kenyataannya tidak semua dambaan dan impian yang kita harapkan terwujud.

Ada banyak hal yang gagal tercapai namun dengan alasan itu pula manusia tak pernah berhenti bergerak.

Kedua, mengurangi atau menekan kebutuhan. Kata orang bijak, bila masih banyak butuh yang belum terpenuhi, maka tidaklah dianggap sebagai orang kaya.

Sebab, orang kaya adalah orang dengan kemampuan mengurangi kebutuhan pada hal-hal dianggapnya tidak perlu. Banyak butuh terhadap menjadi sumber ketidakbahagiaan dalam hidup.

Pentingnya memilah dan memilih apa-apa saja penentu dalam menjalani aktifitas harian agar mampu menekan ketergantungan pada aspek eksternal diri.

Ketiga, memiliki sikap batin sedemikian rupa sehingga apapun yang terjadi atau datang pada diri kita selalu disyukuri. Syukur adalah kemampuan menerima tanpa syarat terhadap kondisi yang ada.

Mensyukuri apa yang dimiliki dan mensyukuri apa yang belum dimiliki, bahkan yang tidak dimiliki. Berusaha segiat potensi masing-masing.

Namun tetap bersandar pada keteguhan hati, manusia berencana dana berusaha, namun skenario terbaik ada pada Tuhan. Menepilah sejenak dan pelankan ritme. Merenunglah Menepilah sejenak, pelankan ritme, merenunglah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *