FISH UNIMA Perkuat Kurikulum Berbasis OBE, Siapkan Lulusan Kompeten, Adaptif, dan Berdaya Saing Global

Editor/Pewarta: Martsindy Rasuh

Manado (Gawai.co) – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Manado (UNIMA) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi melalui pelaksanaan Lokakarya Kurikulum Outcome Based Education (OBE) bertajuk “Implementasi Kurikulum Outcome Based Education (OBE) dalam Mencapai Lulusan yang Kompeten, Adaptif, dan Berdaya Saing” yang dilaksanakan di Hotel Ibis Manado dan secara daring melalui Zoom, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan strategis ini menghadirkan pakar kurikulum nasional, Prof. Dr. Ahmad Yani, M.Si, Guru Besar Bidang Ilmu Kurikulum dan Pembelajaran Geografi sekaligus Direktur Direktorat Pengembangan Kurikulum, Pembelajaran Digital, Kecerdasan Buatan, dan Metamesta Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Lokakarya diikuti oleh pimpinan jurusan dan program studi, tim pengembang kurikulum, serta dosen di lingkungan FISH UNIMA. Kegiatan ini menjadi forum akademik penting untuk mengevaluasi, menyelaraskan, dan menyempurnakan kurikulum berbasis OBE yang selaras dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi, KKNI, kebutuhan akreditasi, serta tuntutan dunia kerja yang terus berkembang.

Rektor UNIMA, Dr. Joseph Philip Kambey, SE., Ak., MBA, dalam sambutannya menegaskan bahwa transformasi kurikulum merupakan kebutuhan mendesak bagi perguruan tinggi yang ingin menghasilkan lulusan unggul di era perubahan yang sangat cepat.

“Kurikulum tidak boleh hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi harus mampu mengantisipasi masa depan. Melalui pendekatan Outcome Based Education, UNIMA ingin memastikan bahwa setiap lulusan memiliki kompetensi yang relevan, karakter yang kuat, kemampuan beradaptasi, serta daya saing yang tinggi di tingkat nasional maupun global,” ujar Kambey.

Menurutnya, implementasi OBE merupakan bagian dari upaya berkelanjutan UNIMA dalam memperkuat budaya mutu akademik serta meningkatkan kualitas lulusan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNIMA, Prof. Dr. Theodorus Pangalila, S.Fils., S.H., M.Pd, menekankan bahwa pengembangan kurikulum berbasis OBE bukan sekadar memenuhi tuntutan administrasi maupun akreditasi, tetapi merupakan langkah strategis untuk memastikan kebermanfaatan lulusan di tengah masyarakat.

“Kita ingin memastikan bahwa setiap program studi di lingkungan FISH UNIMA menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan kemampuan memecahkan persoalan nyata di masyarakat. Inilah semangat utama dari Outcome Based Education,” kata Pangalila.

Ia menambahkan bahwa lokakarya ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi seluruh civitas akademika dalam membangun kurikulum yang lebih relevan, adaptif, dan berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan.

Dalam pemaparannya, Prof. Ahmad Yani menjelaskan bahwa sebelum memahami konsep OBE secara utuh, dosen dan pengelola program studi perlu terlebih dahulu memahami hakikat kurikulum itu sendiri.

Menurutnya, masih banyak pihak yang memandang kurikulum hanya sebatas daftar mata kuliah atau struktur pembelajaran. Padahal, kurikulum sesungguhnya mencakup seluruh rencana pendidikan yang dirancang untuk membentuk kualitas lulusan.

“Kurikulum bukan hanya tentang mata kuliah, jadwal, atau struktur pembelajaran. Semua program dan rencana yang ada dalam lingkungan pendidikan merupakan bagian dari kurikulum,” jelas Prof. Ahmad Yani.

Ia menegaskan bahwa paradigma OBE berbeda dengan pendekatan kurikulum konvensional yang lebih menekankan penguasaan materi dan kompetensi semata. Dalam OBE, fokus utama adalah memastikan lulusan memiliki kapabilitas untuk beradaptasi, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata setelah menyelesaikan pendidikan.

“Jika dalam paradigma lama mahasiswa belajar, berlatih, lalu lulus, maka urusan pekerjaan dianggap selesai. Dalam OBE, sejak awal penyusunan kurikulum kita harus memikirkan apakah lulusan nantinya mampu diterima masyarakat, mampu menjawab kebutuhan dunia kerja, dan mampu memberikan manfaat melalui ilmu yang dimilikinya,” ungkapnya.

Menurut Prof. Ahmad Yani, lulusan masa depan tidak cukup hanya menguasai pengetahuan akademik. Mereka juga harus dibekali kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, berpikir kritis, pemecahan masalah, serta pengalaman belajar yang autentik melalui proyek, studi kasus, dan praktik langsung di lapangan.

Ia bahkan menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah program studi bukan hanya ditentukan oleh kampus, tetapi oleh masyarakat dan pengguna lulusan.

“Dalam prinsip OBE, yang sesungguhnya menyatakan seorang lulusan berhasil atau tidak bukanlah program studi, melainkan masyarakat dan pengguna lulusan itu sendiri,” tegasnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa kerangka pengembangan OBE dimulai dari visi dan misi universitas, kemudian diturunkan ke profil lulusan, tujuan program pendidikan, capaian pembelajaran lulusan (CPL), hingga capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK). Seluruh komponen tersebut harus terhubung secara sistematis agar menghasilkan proses pembelajaran yang efektif dan terukur.

Melalui lokakarya ini, FISH UNIMA menargetkan lahirnya berbagai dokumen strategis, antara lain pedoman penyusunan kurikulum OBE, dokumen kurikulum hasil revisi, penyelarasan CPL program studi, draft CPMK berbasis OBE, matriks CPL-CPMK-penilaian, serta rekomendasi implementasi kurikulum yang dapat mendukung peningkatan mutu akademik dan akreditasi program studi.

Pelaksanaan lokakarya ini menjadi bagian dari komitmen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNIMA untuk terus melakukan transformasi pendidikan yang berkelanjutan. Dengan kurikulum yang relevan dan berorientasi pada capaian pembelajaran, FISH UNIMA optimistis dapat menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, berintegritas, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Di tengah dinamika perubahan dunia yang semakin cepat, penguatan kurikulum berbasis OBE menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap memimpin perubahan dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. (Mrt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *