SITARO (Gawai.co) – Banjir bandang melanda Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), pada Senin dini hari (5/1/2025) sekitar pukul 03.00 WITA. Peristiwa ini mengakibatkan 11 orang meninggal dunia, sejumlah warga dilaporkan hilang, serta ratusan lainnya terdampak.
Banjir bandang terjadi saat warga tertidur pulas setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Pulau Siau. Debit air meningkat drastis dan membawa lumpur, material batu, serta kayu, yang kemudian menerjang permukiman warga dan Kantor Mako Polres Sitaro yang berada di lereng perbukitan dan sepanjang aliran air. Kondisi gelap serta hujan lebat menyebabkan sebagian warga tidak sempat menyelamatkan diri.

Berdasarkan data sementara Pusdalops-PB BPBD Kepulauan Sitaro, sebanyak 7 orang dilaporkan meninggal dunia di Kelurahan Bahu (Sondang), Kecamatan Siau Timur.
“Hingga saat ini, identitas para korban masih dalam proses pendataan karena situasi di lapangan belum sepenuhnya kondusif,” ungkap Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kepulauan Sitaro, Joickson Sagune, dalam laporan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Sonny S. Belseran.
Selain itu, di Kampung Laghaeng, Kecamatan Siau Barat Selatan, dua warga dilaporkan meninggal dunia, masing-masing Rafles Kobis dan Hermina Maningide. Sementara dua korban jiwa lainnya ditemukan meninggal di Kampung Peling, kecamatan yang sama. Dengan demikian, total sementara korban meninggal dunia mencapai 11 orang. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring berlanjutnya proses evakuasi dan pendataan di wilayah terdampak.
Banjir bandang pun menyebabkan kerusakan signifikan pada rumah warga dan infrastruktur. Akses jalan tertutup material lumpur dan batu, sementara puluhan kepala keluarga terpaksa mengungsi. Di Kelurahan Paseng, Kecamatan Siau Barat, sebanyak 36 kepala keluarga atau 102 jiwa mengungsi di Gedung GMIST Bethbara.
BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro telah melakukan kaji cepat, mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC), serta menyalurkan bantuan darurat ke wilayah terdampak.
“Koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kelurahan terus dilakukan, baik untuk pembersihan material maupun pencarian korban hilang,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari akun Facebook Pemkab Sitaro, warga Lingkungan III dan IV Kelurahan Bahu saat ini mengungsi sementara di Kantor Kelurahan Bahu dan direncanakan akan dipindahkan ke Museum Kelurahan Tarorane, Kecamatan Siau Timur. Data sementara mencatat jumlah pengungsi sebanyak 35 kepala keluarga atau 108 jiwa.
Menanggapi peristiwa tersebut, Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, bersama jajaran pemerintah daerah turun langsung ke lokasi untuk meninjau kondisi di lapangan serta memberikan penguatan kepada warga terdampak. Bahkan, pemerintah daerah pun telah menetapkan langkah-langkah penanganan darurat dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia.
“Pemerintah daerah bergerak cepat dengan mengerahkan tim gabungan untuk melakukan pencarian korban, evakuasi warga terdampak, serta penanganan akses jalan yang tertutup material longsor. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” ucap Bupati Chyntia.
Ia pun mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan dengan intensitas tinggi.
“Kami mengimbau warga, khususnya yang berada di wilayah rawan bencana, agar tetap waspada, menghindari area perbukitan dan aliran sungai, serta segera melaporkan kepada pemerintah setempat atau aparat apabila terjadi kondisi darurat,” tambahnya.
Seraya menyampaikan belasungkawa, Bupati turut berdukacita atas musibah banjir bandang tersebut dan berharap keluarga korban diberikan kekuatan serta penghiburan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Hingga saat ini, BPBD Kepulauan Sitaro bersama unsur TNI, Polri, perangkat kecamatan, pemerintah kelurahan, dan relawan masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan serta bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir dan longsor susulan. (dew)

















