Editor/Pewarta: Rendi Pontoh
BOLTARA (Gawai.co) – Menyambut datangnya 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Bupati Bolaang Mongondow Utara, Sirajudin Lasena, menerima prosesi adat Mopohabaru atau Mopotau yang digelar oleh Aliansi Lembaga Adat Kabupaten Boltara, bertempat di kediaman resmi Bupati, baru-baru ini.
Prosesi sakral tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada pemerintah daerah selaku pemangku adat tertinggi atau Ki Doni Pangulu, sekaligus simbol kesiapan masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan, para tokoh adat, tokoh agama, serta unsur masyarakat menyampaikan pesan-pesan adat yang sarat makna spiritual dan nilai kebersamaan. Mopohabaru atau Mopotau sendiri merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Bolaang Mongondow Utara yang dilaksanakan setiap menjelang akhir bulan Sya’ban sebagai penanda akan masuknya bulan suci.
Dalam sambutannya, Bupati Sirajudin Lasena menegaskan bahwa prosesi adat ini bukan sekadar seremoni, tetapi bagian dari identitas dan jati diri masyarakat Boltara.
“Prosesi adat Mopohabaru atau Mopotau merupakan tradisi sakral masyarakat di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang setiap tahunnya dilaksanakan menjelang akhir bulan Sya’ban dalam menghadapi bulan suci Ramadhan,” ujar Bupati.
Ia juga mengingatkan bahwa seluruh aktivitas ibadah, baik pelaksanaan salat tarawih maupun tadarus Al-Qur’an, tetap akan menunggu hasil penetapan resmi melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia.
“Pemerintah daerah akan mengikuti keputusan pemerintah pusat melalui sidang isbat Kementerian Agama sebagai pedoman bersama dalam memulai ibadah Ramadhan,” tambahnya.
Momentum tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Boltara Frangky Chendra, Ketua TP PKK Boltara Ening Sutrisni Lasena Adam, Sekretaris TP PKK Moy Olivia Pontoh Mamonto, Ketua DWP Boltara Firlia Mokoagow, unsur pimpinan dan anggota DPRD, Kapolres Boltara atau yang mewakili, Kejaksaan Negeri Boltara, Kepala Kantor Kemenag Boltara atau yang mewakili, para Asisten Sekda, Staf Ahli Bupati, pimpinan OPD, Ketua DMI Boltara, para camat, sangadi, serta tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat.
Prosesi Mopohabaru menjadi penegasan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga adat tetap terjaga erat dalam membangun kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga refleksi nilai religius yang memperkuat persatuan menjelang bulan penuh berkah. (Rp)

















