Bitung  

Jejak Om Inyo di Jantung Perlawanan Lingkungan Sulawesi Utara

Om Inyo bersama warga Tanjung Merah saat mengelar aksi damai dugaan pencemaran lingkungan akibat dari aktivitas PT Futai. (foto:istimewa)

Editor/Pewarta: Alfondswodi

BITUNG (Gawai.co) – Hening menyelimuti rumah duka di Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari, Kota Bitung. Di antara doa dan nyanyian penghiburan, satu nama terus disebut dengan nada haru: Samuel Angkaow, atau yang akrab disapa Om Inyo. Sosok yang selama hidupnya mendedikasikan sebagai pengiat lingkungan dan budaya, kini telah berpulang.

Bagi banyak aktivis, Om Inyo bukan sekadar rekan seperjuangan. Ia adalah pengingat bahwa membela lingkungan berarti membela kehidupan itu sendiri. Langkahnya nyaris tak pernah absen dalam berbagai advokasi ekologis di Sulawesi Utara.

Beliau hadir dari penolakan limbah tapioka PT CMSA di kampungnya sendiri di kelurahan Tanjung Merah, menggagas hutan kerakyatan di Minahasa, dan mendorong sejarah Indigeniois People dalam pengelolaan sumberdaya alam di Sulawesi Utara bahkan secara Nasional ikut terlibat kerja-kerja masyarakat sipil dalam pemulihan Aceh pasca Tsunami,

Hingga pada penolakan pertambangan, pencemaran pesisir dan laut, hingga pendampingan masyarakat dalam konflik agraria yang berlarut.

Om Inyo dikenal tak gemar sorotan. Ia lebih sering berada di tengah warga, duduk mendengar keluhan nelayan, petani, dan masyarakat adat yang ruang hidupnya terancam. Dari sana, ia menyusun perlawanan dengan cara yang tenang namun konsisten.

“Beliau adalah pahlawan lingkungan Sulawesi Utara,” tutur Berty Pesik, sahabat sekaligus sesama pegiat lingkungan, saat ditemui awak media di sela ibadah penghiburan, Rabu (21/1/2026).

“Banyak kisah perjuangan yang kami lalui bersama almarhum, terutama dalam mendampingi masyarakat yang berhadapan langsung dengan kerusakan lingkungan.”

Bagi Pesik, yang juga mantan Direktur Walhi Sulawesi Utara, Om Inyo adalah figur senior yang tak pernah lelah menguatkan barisan. Ia hadir bukan hanya membawa kritik, tetapi juga harapan dan keberanian bagi mereka yang suaranya kerap terpinggirkan.

Kepergian Om Inyo meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia aktivisme lingkungan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Namun, jejaknya tak ikut pergi. Ia tertinggal di setiap gerakan, di setiap suara penolakan terhadap eksploitasi yang merusak, dan di setiap upaya menjaga keseimbangan alam.

“Jejak Om Inyo akan terus hidup di jantung perlawanan lingkungan. Ia telah menanamkan nilai keberanian dan ketulusan dalam menjaga bumi,” ujar Pesik.

Semasa hidup, Om Inyo dikenal sederhana, keras pada prinsip, namun lembut dalam memperlakukan sesama. Ia adalah teladan bahwa perjuangan lingkungan bukan soal popularitas, melainkan soal keberpihakan.

Diketahui, almarhum sempat menjalani perawatan medis akibat gangguan lambung di salah satu rumah sakit di Kota Bitung, sebelum dirujuk ke rumah sakit di Kabupaten Minahasa Utara. Takdir berkata lain, dan Om Inyo pun berpulang.

Keluarga merencanakan prosesi pemakaman Samuel Angkaow pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kepergiannya mungkin meninggalkan ruang kosong, tetapi nilai dan semangat perjuangannya akan terus mengalir, sebagaimana bumi yang selalu ia bela sepanjang hidupnya. (ayw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *