Penulis: Mart Rasuh
(Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum)
MANADO (Gawai.co) – Di tengah derasnya arus perubahan pendidikan tinggi nasional, Universitas Negeri Manado kembali menjadi panggung riuh—sebuah hiruk-pikuk yang menggema dari ruang sidang PTUN hingga lorong-lorong diskusi akademik. Polemik yang seharusnya menjadi arena klarifikasi hukum justru berkembang menjadi drama psikologis institusi: apakah ini pencarian kebenaran, atau sekadar tanda bahwa sebagian pihak belum sepenuhnya “move on” dari kontestasi lama?
Unima ibarat Gerbong Kereta yang Tersendat
Universitas, dalam pandangan akademik, merupakan entitas sistemik: ketika satu komponennya terganggu, seluruh sistem ikut tersendat. Unima pun demikian—laksana rangkaian gerbong kereta. Bila satu gerbong bermasalah, laju seluruh rangkaian terkunci. Yang seharusnya ditempuh dalam satu jam mendadak memanjang menjadi dua jam, hanya karena satu bagian yang enggan berjalan seirama.
Metafora ini bukan sekadar ilustrasi; ia mencerminkan realitas struktural Unima hari ini. Ketika sebagian kecil penghuni gerbong justru sibuk menarik tuas darurat, kereta tak mungkin melaju, betapapun kuat lokomotifnya.
Dari Pilrek ke PTUN: Jejak Kecewa yang Menjelma Gugatan
Dalam birokrasi pendidikan, dinamika pasca pemilihan pemimpin adalah hal lumrah. Namun, yang tak lumrah adalah ketika kekecewaan personal menjelma menjadi siklus tak berkesudahan—terus mencari celah, memelototi kesalahan, seolah setiap kebijakan pemimpin terpilih harus diuji bukan oleh logika akademik, melainkan oleh residu emosional.
Sesungguhnya critical thinking adalah inti akademia. Mengkritisi itu baik. Tetapi, kritik yang tendensius, tidak proporsional, bahkan destruktif, justru mencederai marwah institusi—dan merusak rumah yang selama ini menjadi tempat mereka sendiri mencari nafkah, mengabdi, dan berkarir.
Pertanyaannya kembali menggema:
“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”
Pepatah itu bukan hanya pesan moral, tetapi refleksi epistemologis tentang objektivitas dan kejujuran intelektual.
Ketika Reputasi Institusi Menjadi Taruhan
Fakta bahwa minat calon mahasiswa terhadap Unima menurun drastis dari tahun ke tahun bukanlah isu abstrak. Di era kompetisi perguruan tinggi yang kian ketat, reputasi adalah komoditas strategis. Ironisnya, sebagian kerusakan reputasi justru lahir dari tangan internal sendiri—orang-orang yang sehari-harinya menikmati fasilitas kampus, menerima gaji dari negara melalui institusi ini, namun pada saat bersamaan menyebarkan narasi yang melukai rumah akademik mereka.
Belum lagi soal profesor—aset intelektual paling berharga Unima. Jumlahnya melimpah, tetapi berapa yang benar-benar hadir di ruang kelas? Berapa yang bersedia menurunkan ilmu ke generasi muda? Berapa yang memilih berjuang memajukan fakultas, alih-alih tenggelam dalam konflik?
Di titik ini, publik tentu berhak bertanya:
Apakah akademisi sedang sibuk mengajar, atau sibuk bertarung?
Akibat Ego yang Tak Kunjung Sembuh
Jika sebagian oknum memilih bersikap seperti “orang luar”—padahal mereka bagian dari tubuh Unima—maka sesungguhnya luka terbesar bukan pada institusi, tetapi pada mereka sendiri. Egoisme, dendam, dan ketidakmauan menerima realitas bukan hanya menghambat, tetapi juga merusak ekosistem kolaborasi.
Padahal, Unima sedang berada di era yang menuntut kecepatan. Kampus ini seharusnya berlari, bukan tersandung. Rektor dan pimpinan pun tidak bisa fokus jika energi mereka terus dialihkan untuk menghadapi serangan-serangan yang tidak proporsional.
Pilrek sudah selesai. Pemimpin terpilih telah ditetapkan. Kini tanggung jawab melekat pada semua pegawai, dosen, bahkan profesor. Saatnya bekerja, bukan berkubang dalam masa lalu.
Fokus Masa Depan: Pekerjaan Rumah yang Tak Sedikit
Masalah Unima bukan sedikit:
1. Peningkatan SDM
2. Penguatan fasilitas
3. Percepatan modernisasi kampus
4. Kemandirian kelembagaan
5. Kualitas pembelajaran
6. Kualitas lulusan
7. Harmonisasi program
8. Nasional–regional–daerah
9. Hingga penyamaan visi internal
Dengan beban seberat itu, mengapa energi justru dihabiskan untuk konflik yang tidak produktif?
Bagaimana Unima bisa maju jika saat fokus harus diarahkan pada inovasi, sebagian pihak justru sibuk mengorek kesalahan? Padahal, seandainya semua pihak duduk di bangku yang sama, kampus ini bisa melesat mengejar mimpi menjadi Kampus Unggul dan kembali menarik animo masyarakat.
Konflik hanya layak dipertahankan bila menyangkut temuan nyata, seperti korupsi atau pelanggaran berat yang harus ditangani aparat hukum. Selain itu, yang diperlukan adalah kedewasaan akademik: kemampuan membedakan antara kritik konstruktif dengan serangan personal.
Menjaga Rumah Bersama
Unima bukan sekadar lembaga, melainkan rumah intelektual yang dibangun dari kerja keras ribuan civitas akademika. Ia adalah representasi aspirasi pendidikan Sulawesi Utara dan wajah akademik di mata nasional.
Karena itu, pertanyaan akhirnya sederhana namun mendalam:
Apakah kita sedang membangun rumah bersama—atau merobohkannya sedikit demi sedikit hanya karena perbedaan kepentingan?
Sejarah mencatat: lembaga besar runtuh bukan oleh serangan dari luar, tetapi erosi kecil dari dalam yang tak pernah disadari.
Semoga Unima memilih jalan yang benar: jalan kedewasaan, jalan kemajuan, jalan persatuan. (*)

















