Membaca Pesan Alam Sitaro: Memutus Siklus Bencana, Merawat Harapan

Penulis: Dr. Joyce Kumaat
Akademisi Program Studi Geografi, Universitas Negeri Manado

TONDANO (Gawai.co) – Pulau Siau sedang berduka. Tangis alam yang mewujud dalam banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Senin (5/1/2026), menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Sulawesi Utara. Tragedi ini tidak semata dapat direduksi menjadi angka—empat belas nyawa yang hilang, puluhan rumah yang rusak, serta pemukiman yang tertimbun lumpur—melainkan sebuah peristiwa kompleks yang memuat pesan ekologis dan geologis yang mendesak untuk dipahami secara jernih dan bertanggung jawab.

Sebagai bagian dari masyarakat Sulawesi Utara dan sebagai akademisi Geografi, penulis menyampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh keluarga korban. Namun, duka tidak boleh menghentikan nalar. Justru di tengah kepedihan inilah kita ditantang untuk membaca ulang relasi manusia dan alam kepulauan yang indah, tetapi rapuh. Agar ruang publik tidak dipenuhi spekulasi dan penyederhanaan berlebihan, penting bagi kita untuk mengurai peristiwa ini melalui kerangka ilmiah yang proporsional.

Anatomi Banjir Bandang: Pertemuan Langit, Lereng, dan Material Vulkanik

Pertanyaan yang kerap muncul di tengah masyarakat adalah: mengapa banjir datang begitu cepat dan merusak? Jawabannya terletak pada interaksi simultan tiga faktor utama, yakni curah hujan ekstrem, morfologi lahan kepulauan vulkanik, dan keberadaan material rombakan gunung api.

Secara meteorologis, hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur Pulau Siau selama kurang lebih lima jam tanpa jeda pada dini hari kejadian. Dalam perspektif hidrologi, setiap tanah memiliki ambang kejenuhan (saturation point). Ketika hujan melampaui kapasitas infiltrasi, tanah tidak lagi mampu menyerap air, sehingga limpasan permukaan (surface runoff) terbentuk secara masif dan cepat.

Kondisi ini diperparah oleh karakter topografi Pulau Siau yang secara geomorfologis merupakan tubuh gunung api. Sungai-sungainya berpola radial sentrifugal—mengalir dari puncak menuju pesisir—dengan daerah aliran sungai (DAS) yang pendek dan kemiringan lereng sangat curam, bahkan melampaui 40 persen. Konsekuensinya, air hujan dari kawasan hulu hanya membutuhkan waktu hitungan menit untuk mencapai wilayah permukiman di bagian bawah. Inilah sebab utama mengapa banjir dirasakan datang secara tiba-tiba, tanpa ruang reaksi yang memadai bagi warga.

Namun, faktor paling destruktif dalam peristiwa ini bukan semata air, melainkan material yang dibawanya. Banjir bandang yang melanda Siau Barat dan Siau Timur merupakan debris flow, yaitu aliran air bercampur material rombakan berupa pasir, batu, dan kerikil vulkanik. Material tersebut berasal dari lereng Gunung Karangetang yang aktif, di mana endapan erupsi masih bersifat lepas dan belum terkonsolidasi. Ketika air hujan menghantam lereng, material ini terangkut, membentuk aliran bermassa jenis tinggi dengan energi kinetik besar, sehingga mampu merusak bangunan permanen sekalipun.

Meluruskan Narasi Tunggal tentang Penyebab Bencana

Dalam setiap peristiwa bencana, sering kali muncul penjelasan tunggal yang menyederhanakan kompleksitas, salah satunya dengan menuding deforestasi sebagai penyebab utama. Pendekatan ini perlu diluruskan secara akademik. Memang benar bahwa degradasi vegetasi dapat memperparah risiko, namun dalam konteks Sitaro, faktor geologis alamiah memegang peran dominan.

Pulau Siau didominasi tanah vulkanik jenis Andosol dan Regosol yang gembur dan mudah tererosi. Vegetasi perkebunan rakyat seperti pala, meskipun memberi kesan hijau, tidak memiliki kemampuan penahan lereng setara dengan hutan hujan tropis primer, terutama pada kemiringan ekstrem. Bahkan pada kawasan yang tampak hijau sekalipun, longsor dan aliran bahan rombakan tetap dapat terjadi apabila curah hujan melampaui ambang ekstrem. Ini adalah risiko bawaan (inherent risk) dari kehidupan di wilayah kepulauan vulkanik aktif.

Strategi Bangkit: Beradaptasi, Bukan Melawan Alam

Gunung Karangetang tidak mungkin dipindahkan, dan hujan ekstrem tidak dapat dicegah. Oleh karena itu, pendekatan paling rasional adalah membangun strategi adaptasi dan mitigasi berbasis sains. Pasca fase tanggap darurat, setidaknya terdapat tiga langkah strategis yang perlu dipertimbangkan secara serius oleh Pemerintah Kabupaten Sitaro bersama masyarakat.

Pertama, diperlukan rekayasa sipil pengendali sedimen melalui pembangunan sabo dam atau cekdam penahan material di hulu sungai-sungai kritis. Infrastruktur ini tidak dimaksudkan untuk menghentikan aliran air, melainkan menahan batuan besar agar tidak meluncur ke wilayah permukiman.

Kedua, penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas menjadi mutlak. Mengingat waktu respon banjir yang sangat singkat, ketergantungan pada sistem peringatan terpusat tidak memadai. Sensor hujan sederhana di hulu DAS, dikelola oleh masyarakat lokal, dapat menjadi solusi efektif. Ketika hujan deras berlangsung lebih dari satu jam, peringatan manual harus segera disebarkan. Kearifan lokal dan teknologi tepat guna perlu dipadukan secara cerdas.

Ketiga, penataan ruang berbasis peta bahaya harus ditegakkan secara konsisten. Kawasan yang berada pada jalur lahar dingin atau dataran banjir bandang perlu ditetapkan sebagai zona merah dan secara bertahap dibebaskan dari hunian permanen. Kebijakan ini memang berat secara sosial, tetapi jauh lebih manusiawi dibanding membiarkan risiko berulang mengancam generasi mendatang.

Duka sebagai Energi Perubahan

Kepada masyarakat Sitaro, duka ini adalah duka kita bersama. Kehilangan yang terjadi tidak ternilai. Namun sejarah Sitaro adalah sejarah ketangguhan. Selama berabad-abad, masyarakat telah hidup berdampingan dengan dinamika Gunung Karangetang.

Banjir bandang 5 Januari 2026 adalah peringatan keras dari alam, sekaligus peluang untuk menata ulang kesiapsiagaan dan tata ruang wilayah kepulauan. Mari bangkit, membersihkan lumpur, dan membangun kembali Siau, Tagulandang, dan Biaro—bukan sekadar seperti sediakala, tetapi lebih aman, lebih waspada, dan lebih selaras dengan alam.

“Somahe Kai Kehage.”

Disclaimer:
Tulisan ini merupakan analisis independen akademisi yang bertujuan memberikan perspektif ilmiah terhadap bencana banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, sebagai kontribusi bagi peningkatan literasi kebencanaan dan pengambilan kebijakan berbasis pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *