Editor/Pewarta: Alfondswodi
BITUNG (Gawai.co) — Polemik terkait dugaan tindakan yang dianggap tidak menghormati prosesi adat dalam perayaan Tulude Nusa Utara di Kelurahan Batuputih Bawah, menuai perhatian dari kalangan pemerhati budaya.
Praktisi dan pemerhati budaya Nusa Utara, Samuel Muhaling, mengingatkan pentingnya menjaga nilai sakral dan filosofi budaya dalam setiap pelaksanaan tradisi tersebut.
Pria berdarah Kepulauan Sangihe, menegaskan bahwa Tulude bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan tradisi adat yang sarat makna spiritual dan sosial bagi masyarakat Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro.
“Tulude adalah ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada leluhur. Jika ada perilaku yang dianggap tidak menghormati prosesi adat, itu dapat dipandang sebagai bentuk ketidakpekaan budaya. Karena itu, semua pihak perlu menjaga etika selama perayaan berlangsung,” ujar Muhaling, Sabtu (8/2/2026).
Menurutnya, perayaan Tulude memiliki nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap adat yang tidak boleh hilang di tengah perkembangan zaman.
“Modernisasi perayaan boleh saja terjadi, tetapi jangan sampai menghilangkan makna sakral Tulude. Tradisi ini adalah identitas budaya masyarakat Nusa Utara,” katanya.
Ia juga mengajak tokoh adat, pemerintah, dan generasi muda untuk bersama-sama menjaga marwah tradisi tersebut agar tetap lestari.
“Polemik yang muncul sebaiknya menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat pemahaman budaya, bukan justru memecah persatuan masyarakat,” tambahnya.
Doa Syukur dari Utara yang Tak Pernah Padam
Di awal tahun, ketika angin laut dari utara berembus pelan dan suara ombak terdengar seperti doa yang dipanjatkan alam, masyarakat Nusa Utara berkumpul dalam satu tradisi yang telah hidup lintas generasi Tulude. Bukan sekadar perayaan adat, Tulude adalah ingatan kolektif tentang asal-usul, rasa syukur, dan harapan akan masa depan.
Tradisi ini berasal dari Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro. Sejak dahulu, Tulude menjadi penanda berakhirnya perjalanan satu tahun kehidupan dan dimulainya lembaran baru.
Dalam bahasa Sangihe, kata “Tulude” dimaknai sebagai ungkapan syukur sekaligus simbol “menolak” atau meninggalkan hal-hal buruk di masa lalu.
Tulude bukan hanya ritual, tetapi juga refleksi hidup masyarakat kepulauan yang sangat bergantung pada alam. Laut, angin, tanah, dan hasil kebun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, rasa syukur menjadi inti dari perayaan ini.
Pada puncak acara, masyarakat berkumpul dalam suasana khidmat. Doa dipanjatkan, nyanyian adat dilantunkan, dan pesan-pesan kebijaksanaan disampaikan oleh tokoh adat maupun tokoh agama. Semua berlangsung dalam suasana sederhana namun sarat makna.
Salah satu simbol paling dikenal dalam Tulude adalah kue Tamo. Kue tradisional berbentuk kerucut ini bukan sekadar hidangan, melainkan lambang kehidupan dan persatuan.
Prosesi pemotongan kue Tamo menjadi momen penting yang menandai harapan akan kesejahteraan dan kebersamaan di tahun yang baru.
Di masa lalu, Tulude dilaksanakan secara sederhana di kampung-kampung. Namun kini, perayaan ini berkembang menjadi acara budaya yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas adat, hingga generasi muda. Meski bentuknya berkembang, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap sama: syukur, persaudaraan, dan penghormatan kepada leluhur.
Bagi masyarakat Nusa Utara yang merantau, Tulude menjadi pengikat identitas. Di kota-kota seperti Manado, Bitung, bahkan di luar Sulawesi, tradisi ini tetap digelar sebagai cara menjaga hubungan dengan tanah asal.
Tulude menjadi pengingat bahwa budaya tidak pernah benar-benar pergi selama masih dirawat oleh ingatan dan kebersamaan.
Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, Tulude tetap berdiri sebagai penanda jati diri. Tradisi ini mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang bergerak maju, tetapi juga tentang mengingat perjalanan yang telah dilalui.
Tulude pada akhirnya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah bahasa budaya tentang rasa syukur manusia kepada Sang Pencipta, tentang kebersamaan dalam komunitas, dan tentang harapan yang selalu lahir di setiap awal tahun.
Selama nilai itu masih dijaga, Tulude akan terus hidup seperti doa yang tidak pernah selesai diucapkan oleh masyarakat Nusa Utara. (ayw)

















