Bitung  

Hendrieks Rundengan: Science Camp PKT Perkuat Kesadaran Sosial Pelestarian Lingkungan

Hendrieks Ansen Rundengan selaku Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulut saat membuka kegiatan Simposium Science Camp angkatan ke-VI. (foto:istimewa)

Editor/Pewarta: Alfondswodi

BITUNG (Gawai.co) – Konsistensi dalam menggaungkan pelestarian lingkungan terus diperlihatkan Program Konservasi Tangkoko (PKT) melalui pelaksanaan Simposium Science Camp Program (SCP) Angkatan VI.

Kegiatan ini digelar di Aula Star Generation School (SGS), Kelurahan Manembo-Nembo, Kecamatan Matuari, Kota Bitung, Kamis (22/1/2026), sebagai ruang edukasi dan aktualisasi pengetahuan generasi muda terhadap isu konservasi alam.

Simposium tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara, Hendrieks Ansen Rundengan, yang hadir mewakili Kepala BKSDA Sulut.

Dalam sambutannya, Rundengan menegaskan komitmen BKSDA Sulut untuk mendukung berbagai inisiatif yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap pelestarian kawasan konservasi.

“Setiap kegiatan yang digagas oleh rekan-rekan Macaca Nigra Project (MNP) dan PKT setiap tahunnya merupakan upaya positif yang patut diapresiasi dan disupport,” ujar Rundengan.

Ia juga menekankan bahwa BKSDA Sulut membuka ruang seluas-luasnya bagi individu maupun kelompok yang ingin terlibat aktif dalam pelestarian kawasan konservasi, khususnya di wilayah Sulawesi Utara dan Kota Bitung.

“Secara pengelolaan, kawasan konservasi diklasifikasikan dalam tiga fungsi, yakni kawasan pelestarian, pemanfaatan, dan penelitian. Oleh karena itu, setiap kegiatan positif yang berkontribusi pada pelestarian alam tentu kami dukung,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Manager Research Macaca Nigra Project (MNP), Santi Julianti W, memaparkan materi terkait keanekaragaman hayati Macaca nigra yang endemik Sulawesi, dengan fokus pada kawasan konservasi Alam Tangkoko.

Melalui Simposium Science Camp ini, PKT dan MNP berharap dapat menumbuhkan kesadaran ekologis, memperkuat literasi konservasi, serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Sulawesi Utara. (ayw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *