Komoditas Pertanian Sulut Mulai Merebak Pasar Ekspor Luar Negeri

Penulis: AlfondswodiEditor: Redaksi
  • Bagikan
Sejumlah pejabat pemerintah dan unsur Forkopimda Sulut dan Kota Bitung saat melakuakan pelepasan hasil komoditas pertanian yang akan di ekspor. (Ist)

BITUNG (Gawai.co) – Tingkatkan perekonomian bangsa melalui pelaksanaan Merdeka Eksport, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey bersama sejumlah jajaran Forkopimda serta Walikota Bitung Maurits Mantiri, melepas secara simbolis hasil pertanian untuk di ekspor.

Diketahui pelaksanaan pelepasan hasil komoditas pertanian di sejumlah wilayah di Sulut, untuk di ekspor yang di gelar di Terminal Pelabuhan Peti Kemas Bitung. Sabtu (14/08).

Dan pelaksanaan Merdeka Ekspor dilaksanakan secara serentak di 17 pintu pengeluaran di Indonesia yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo yang dilaksanakan secara virtual.

Adapun ekspor komoditas pertanian yang dilepaskan oleh Gubernur Sulut berupa antaran lain; pala biji, bunga pala, pala bubuk, bungkil kelapa, kelapa parut dan santan kelapa.

Ekspor komoditas tersebut, sesuai data yang berhasil di terima oleh sejumlah awak media, dengan tujuan sebanyak 14 Negara, dengan volume ekspor totalnya Berjumlah 13.028.855 dan nilai sebesar Rp 63.601.930.800.-.

Hasil komoditas pertanian berupa Pala Biji akan di ekspor ke Negara-Negara antara lain; Vietnam dan Netherland serta Italy.

Sementara Bunga Pala akan di ekspor ke India dan Netherland, serta Pala Bubuk akan di ekspor ke Argentina, dan Bungkil Kelapa akan di ekspor ke India dan Korea Selatan serta Santan Kelapa ke Negara Vietnam.

Sedangkan Kelapa Parut diekspor ke German, Russia, England, Poland, Netherland, Australia, Hongkong, China dan New Zealand.

Komoditas ekspor baru

Selain keenam komoditas itu, ada juga komoditas pertanian ekspor baru yang sudah berjalan dari tahun 2020-2021.

Keenam komoditas itu adalah RBD palm stearin atau minyak fraksi tujuan ekspor China dengan jumlah 2.999 ton nilai Rp33.2 miliar, air kelapa tujuan Singapura jumlah 256 ton nilai Rp6.8 miliar, coco peat tujuan Korea Selatan dan China jumlah 150 ton nilai Rp449 juta.

Pala bubuk ke Argentina dengan jumlah 39 ton nilai Rp1.7 miliar, stvia atau pemanis pengganti tebu ke Korea Selatan sebanyak 1.3 ton jumlah Rp33.3 miliar.

Dan yang menarik, masuknya tanaman hias sebagai salah satu komoditi pertanian yang cukup banyak diminati sejumlah negara.

Untuk peminat tanam hias dari Sulut adalah Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, US, Belanda, Rusia, Guam, Jepang dan Korea Selatan.

Komoditas potensi ekspor

Tidak hanya itu, sejumlah komoditas pertanian di Sulut sementara dipersiapkan untuk menjajal negara lain melalui ekspor.

Komoditas yang memiliki potensi besar untuk diekspor adalah bawang merah, bunga krisan, sereh, umbi porang, briket dan serat abaka.

Komoditas itu bakal dihasilkan dari sejumlah daerah di Sulut. Untuk bawang merah dari Minahasa, Minsel, Kotamobagu dan Minut.

Bunga krisan dari Tomohon, sereh dari Kota Bitung dan Kotamobagu, umbi porang dari Bolmong, briket dari Sangihe serta serat abaka dari Talaud. (***)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *