Dibalik Pesona Air Terjun Purworejo, Stalaktit dan Stalagmit Perlu Dilestarikan

  • Bagikan
Pesona Alam Stalaktit dan Stalagmit di Lokasi Air Terjun Purworejo. (Foto: Mahmud Mokoginta)

 

Penulis: Mahmud Mokoginta
Editor: Indra S. S. Ketangrejo

 

PARIWISATA, (Gawai.co) – Wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sangat kaya akan potensi wisata alam.

Tak sedikit lokasi yang dapat dijadikan pilihan alternatif untuk dikunjungi para wisatawan dan pencinta alam. Air Terjun Purworejo salah satunya. 0°44’19″N 124°24’49″E adalah titik koordinatnya.

Lokasinya tepat berada di hutan Desa Liberia Timur, Kecamatan Modayag Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara (Sulut).

Eksotisme Air Terjun Purworejo sudah tak diragukan lagi. Pengunjung bisa bermain sambil menikmati air yang mengalir deras dari ketinggian kurang lebih 60 sampai 80 meter itu.

Tak cukup sekali berkunjung, sekali merasakan keindahan air terjun tersebut, dipastikan pengunjung akan mencari waktu untuk kembali.

Tampak Seorang Wanita Berjalan Menuju Air Terjun Purworejo. (Foto: Amu Mokoginta)

Bahkan, banyak mereka yang memilih untuk tinggal beberapa hari di lokasi tersebut. Apalagi, selain menarik lokasinya, medan menuju lokasi tempat itu terbilang mudah pula.

Menuju lokasi air terjun, bisa dilakukan dengan perjalanan sendiri, berdua, maupun berkelompok. Jika berangkat dari Kota Kotamobagu, hanya menempuh jarak yang cukup dekat.

Kira-kira membutuhkan sekitar 15 sampai 20 menit untuk kendaraan jenis roda dua dan roda empat menuju Kecamatan Modayag Timur dengan intensitas kemacetan ringan.

Sementara jarak tempuh dari Kota Manado -Kota Kotamobagu hanya memakan waktu berkisar 3 sampai 4 jam dengan kendaraan roda dua dan empat. Jadi, sangatlah mudah untuk menuju ke tempat ini.

Didukung juga dengan masyarakat sekitar yang umumnya sangat ramah, kita terbantu ketika meminta informasi kepada masyarakat dalam perjalanan menuju lokasi.

Lokasi Air Terjun Sangat Cocok Untuk Mengambilan Gambar. (Foto: Mahmud Momoginta)

Sampai di Desa Liberia, pengunjung mulai memasuki perkebunan warga, ada dua pilihan; kita menitip kendaraan di rumah warga setempat, atau tetap membawa kendaraan hingga sampai di lokasi yang umumnya menjadi tempat penyimpanan kendaraan pengunjung.

Tepat di bangunan bekas pembuatan kopi di zaman Hindia Belanda. Kira-kira menempuh jarak 1 Km. Tak perlu khawatir. Sebab, selama perjalanan, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan perkebunan warga.

Tak jarang ada warga yang ada di kebun menyapa kita. Bahkan jika beruntung, sesekali kita diberikan hasil kebun oleh petani sekitar, seperti tomat dan bawang. Lumayan buat masak di lokasi camping.

Bagi pengguna kendaraan roda dua, diperbolehkan parkir kendaraan di samping bangunan tua itu. Namun harus ada upaya pengamanan kendaraan. Disitu tempat parkir kendaraan pada umumnya oleh pengunjung, bahkan petani sekitar.

Konon, menurut cerita bangunan tua tersebut, digunakan untuk proses pengolahan biji kopi yang sampai hari ini dikenal dengan kopi Modayag. Para petani kopi didatangkan dari Pulau Jawa untuk merawat dan mengolah kopi di tempat itu.

Lokasi Air Terjun Purworejo. (Foto: Mahmud Mokoginta)

Tak heran, sampai saat ini masih banyak keturunan etnis Jawa di sekitar lokasi ini. Tapi kopi tidak lagi sebanyak dulu. Meskipun kualitasnya terjamin, tapi satu dan lain alasan bisa meredupkan keunggulan kopi disini.

Dari bangunan tua itu, pengunjung akan melewati perkebunan kopi yang cukup luas. Berselang kurang lebih 30 – 45 menit jalan santai dengan sedikit menanjak landainya perjalanan, maka kita akan tiba di penghujung perkebunan kopi dan memasuki area hutan.

Di situ jalanan agak sempit dan akan menurun ke arah aliran sungai. Meski begitu, pengunjung harus hati-hati, dikarenakan jalan licin. Jika dalam keadaan cuaca hujan disusul jalanan ini benar-benar berhadapan dengan ketinggian curamnya jurang.

Namun, bagi penikmat seni fotografi, di sekitar itu lumayan bagus untuk bereksperimen. Dan pasti sangat bagus untuk konsep pengambilan foto.

Sambil mendengar suara air sungai, berjalan lagi sekitar 10 menit menurun, kita akan sampai di lokasi kemah diantara pepohonan tinggi. Namun, perlu hati-hati karena lokasi ini ada di lereng gunung dan dekat aliran sungai.

 

Pemandangan Air Terjun Dari Lokasi Kemah. (Foto: Mahmud Mokoginta)

Ketika cuaca tidak memungkinkan seperti hujan deras, pengunjung harus ekstra waspada, karena sungai bisa meluap bahkan tidak menutup kemungkinan bisa terjadi longsor.

Dari lokasi kemah ini sudah terlihat air terjun utamanya. Jadi bisa bersantai di tenda atau mengikat hammock di pohon sambil melihat air terjun dengan jarak kurang lebih 50 meter.

Disaat pagi, sekitar lokasi kemah ini akan banyak jenis burung yang mencari makanan. Biasanya pleci si burung kacamata sampai elang yang hilir mudik.

Pada tempat favorit ini terdapat beberapa spot yang menarik dinikmati untuk bersantai, dan berpose untuk koleksi foto. Salah satunya air terjun yang ada di depan lokasi camping.

Dengan ketinggian yang kurang lebih 60 atau 80 meter ini, bisa dikatakan inilah spot utamanya. Sensasi berbeda akan diperoleh dengan foto karena warna airnya menjadi biru laguna ketika tidak sedang keruh.

Meskipun awalnya sedikit perih di mata setiap terkena percikan air yang mengandung sulfur. Namun, lama kelamaan akan terbiasa.

Dibalik keindahan air terjun itu, tepat di bagian atas air terjun utama, pengunjung bisa menemui dua spot menarik yang tersembunyi. Tak mudah untuk sampai kesana.

Pengunjung tak hanya menikmati indahnya alam, tetapi juga menguji adrenalin. Mereka harus berjuang ekstra keras karena harus memanjat tebing sambil menggelantung di akar-akar pohon.

Tampak gambar keseluruhan Air Terjun. (Foto: Mahmud Mokginta)

Sesulit itu untuk naik ke atas air terjun, bisa dibayangkan kesulitannya untuk turun pula. Itu sebabnya, untuk bagian ini, sangat tidak disarankan bagi mereka yang phobia ketinggian. Karena menuju lokasi itu, sangat dibutuhkan keberanian.

Dari sana, kita bisa melihat kemegahan Gunung Ambang yang begitu jelas dan terasa dekat dengan kita. Dari lokasi yang cukup sulit dilewati ini, kita disuguhkan dengan keindahan lain dengan jarak kurang lebih 20 meter kedepan.

Tak lagi perlu memanjat. Air terjun yang ini, meskipun tidak terlalu tinggi namun ada keunikan tersendiri. Dimana terdapat gerbang di depan air terjunnya, seolah terkurung di dalam tabung dari setiap air yang jatuh.

Memang, masih jarang pengunjung bisa menemui kecantikan yang nyata di lokasi ini, dikarenakan medan yang cukup berat untuk di lalui.

Ada yang lebih menarik lagi, dari lokasi camping air terjun utama, apabila kita menyusuri sungai yang terdapat diantara camp dan air terjun radius 100 meter, kita akan menemui air terjun yang unik.

Lokasi Air Terjun Purworejo. (Foto: Mahmud Mokoginta)

Dengan debit yang tipis bila kita mandi dibawah air tersebut, serasa seperti kita sedang mandi hujan. Air ini juga masih merupakan sulfur. Tak heran, karena lokasi ini berada dekat dengan gunung api.

Dibalik bebatuan air terjun tipis ini, terdapat ukiran alam, yang apabila dirusak oleh tangan-tangan oknum tak bertanggungjawab ataupun terkikis dengan erosi sungai, dapat dipastikan bahwa 1000 tahun lagi setelah generasi kita, baru bisa kembali menyaksikan stalaktit dan stalagmit di daerah sendiri.

Seperti diketahui, stalaktit dan stalagmit terbentuk alami, tanpa pahatan dan sentuhan tangan manusia yang menjadi karya alam luar biasa. Ini adalah ukiran dengan venomena alam.

Namun, sangat disayangkan, sudah mulai mengalami kerusakan sebelum menjadi keindahan yang sempurna akibat ulah oknum yang tak bertanggungjawab.

Meskipun demikian, belumlah terlambat apabila kita mulai berbenah diri untuk menjaga dan melestarikannya. Di indonesia, terdapat salah satu tempat yang memiliki stalaktit dan stalagmit terbaik di asia tenggara yaitu di Goa Gong Pacitan, Jawa Timur.

Kelompok Fotografer dan Pencinta Alam Menuju ke Lokasi Air Terjun Purworejo. (Foto: Mahmud Mokoginta)

Dapat dipastikan karena di dalam goa maka terawat dengan baik. Tidak mudah dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tak jauh dari Sulawesi Utara, di Gorontalo yang merupakan tetangga juga terdapat keindahan yang sama dan sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan serta peneliti.

Apabila kita bisa menjaga ukiran alam ini, maka tidak menutup kemungkinan pula akan menjadi peluang besar untuk lokasi wisata dan menjadi objek penelitian dimasa yang akan datang. (Tim Gawai)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *